PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA (BAGIAN 2) - Kemalang Klaten
Headlines News Klaten.Info :
Home » » PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA (BAGIAN 2)

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA (BAGIAN 2)

Written By kiswanto adinegara on Senin, 27 Mei 2013 | 00.48



KEMALANG ~ Kaum perempuan terkadang diberi stigma kurang pas misalnya disebut kaum lemah,dan ”konco wingking”. Sejarah perjuangan Raden Ajeng Kartini yang lahir pada 21 April 1879 ,mencatat agar kaum wanita dapat berada ditempat yang layak, dan  mengangkat derajat wanita dari tempat gelap ketempat yang terang benderang.Sesuai dengan karya tulis beliau yang terkenal, yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.Perjuangan Kartini hingga kini setelah selama 134 tahun ternyata  belum usai.Kondisi kemiskinan menjadi belenggu dan menghambat perempuan untuk maju.Namun demikian dalam kehidupan yang keras saat ini  ternyata banyak kita jumpai perempuan –perempuan hebat untuk tetap survive secara mandiri.Walaupun diusia senja mereka tidak mau berpangku tangan atau bahkan menadahkan telapak tangan mencari belas kasihan.Mereka tetap semangat untuk  bekerja,bekerja dan terus bekerja.
Kontributor klaten.info mencoba menjumpai diantara mereka.




2.  Pencari pakan ternak di hutan
Kehidupan petani yang berdomisili di lereng gunung Merapi lazimnya tidak terlepas dari memelihara ternak.Ternak yang dibudidayakan antara lain berupa sapi atau kambing.Kemanfaatan dari memelihara ternak antara lain sebagai tabungan,penghasil pupuk kandang dan status sosial.Sebagaimana dituturkan mbah Thukul ,perempuan yang berusia 79 tahun yang telah belasan warsa menjanda karena ditinggal mati suaminya yang sakit-sakitan.Untuk menopang hidupnya perempuan dengan satu anak wanita ini bertani dan memelihara dua ekor lembu.Ia bertekad tidak menikah lagi.Untuk menghidupi sapi peliharaannya mbah Thukul harus “ngarit” atau mencari rumput pakan ternak di hutan.Berangkat pagi pulang siang bahkan tak jarang sampai sore hari,demi sebongkok rumput .Rumput yang diperoleh dihutan yang berjarak 2-3 kilometer dari rumahnya,dibawa dengan cara menggendong dipunggungnya.Sebagor rumput pakan ternak yang beratnya sekitar  60 kg,dapat untuk pakan selama sehari.Bersama anak gadisnya ,mereka sering melintas hulu kali Woro yang panas dan berbatu tanpa keluh kesah,walaupun dengan beban dipunggungnya yang tidak ringan.Mengigat medan yang sulit ,ngarit di hutan memang tidak dapat menggunakan sarana transportasi seperti sepeda,jadi ya harus jalan kaki “ katanya.Kerja keras seperti ini bagi mbah Thukul merupakan hal yang biasa,dan sejak kecil sudah ditanamkan oleh orang tuanya.Kemiskinan yang seolah telah menjadi takdir,mereka terima dengan rasa sukur dan apa adanya.Mbah Thukul merasa bahagia dan nyaman ,tanpa harus berkeluh kesah.Ia tidak merasa bangga apabila untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan cara meminta-minta “ tuturnya.Walaupun hidup di wilayah kawasan rawan bencana saat erupsi Merapi,mbah Thukul berniat dan bertekat menjalani kehidupannya sebagai petani peternak hingga akhir hayat,tambahnya menutup pembicaraan di rumahnya Kemalang.
                                                                                                                  Oleh : Kiswanto
Share this article :

0 komentar:

Tuliskan komentar Anda...

Komentar Anda mungkin akan sangat berguna bagi kami atau pembaca lain :)

Klaten Info Fanpage!

 
Support : Klaten.Info
Kontributor Berita : Kiswanto
Copyright © 2013. Kemalang Klaten - All Rights Reserved
Ingin Buat Website? klik Jasaweb.Klaten.Info